Gila siapa, siapa gila?

Seorang pria selama 25 tahun terakhir hidupnya bekerja sebagai pengayuh becak. Penghasilannya setelah dipotong dengan uang makan sehari-hari seluruhnya  disumbangkan kepada sebuah yayasan yang menampung anak-anak terlantar dan yatim piatu. Sampai menghembuskan nafas terakhirnya pria ini terus hidup dengan sederhana tanpa putus memberikan sumbangan kepada yayasan tersebut. Total uang yang ia sumbangkan selama ia hidup sebetulnya cukup untuk membeli sebuah rumah sederhana dan kehidupan yang lebih layak.

Manusia sebagai makhluk ekonomi beraktivitas melakukan suatu aksi dan reaksi berdasarkan insentif. Ada proses memikirkan cost and benefit dalam pengambilan keputusan untuk melakukan sesuatu perbuatan. Hampir tidak mungkin bagi manusia melakukan sesuatu dengan mengabaikan dampak positif bagi dirinya. Hanya orang gila, nabi dan pemuka agama yang tidak begitu memedulikan keduniawian yang melakukan sesuatu tanpa berpikir opportunity cost.

Seorang ibu muda mengantri dalam sebuah antrian setoran tabungan bank yang cukup panjang. Di depan, sang teller sibuk melayani nasabah yang silih berganti datang dari kiri dan kanan tanpa memperhatikan antrian panjang di belakang. Beberapa orang dalam antrian mulai gusar dan meneriaki para penyerobot untuk tertib dalam antrian. Karena tak dihiraukan akhirnya mereka serentak maju menyerobot meninggalkan antrian mengerubungi meja teller. Bapak berseragam polisi di belakang si ibu muda mencoba mengajak untuk ikut maju meninggalkan antrian. Si ibu muda menolak dan memilih menunggu gilirannya dengan sabar.

Sesampainya di depan sang teller menyapa dengan permohonan maaf, menjelaskan kalau ia tak kuasa menolak orang-orang yang datang menyerobot antrian karena mereka semua adalah customers yang harus dihargai, bahkan berkata seandainya ibu muda tadi ikut maju menyerobot antrian ia akan melayaninya terlebih dahulu karena walau bagaimanapun wanita tetap menjadi prioritas pelayanan utama. Di sebelah si ibu muda, seorang nasabah yang sebelumnya mengantri 3 orang di belakangnya telah menyelesaikan transaksi. Sebelum pulang nasabah itu sempat berkata, “Ibu terlalu tertib sih. Coba kalo ikut ke depan sama saya tadi pasti sekarang sudah selesai. Toh semua juga melakukan hal yang sama.” 

“Terimakasih atas kerjasamanya yang baik selama ini Pak Dedi. Semoga di masa depan kita masih bisa terus bekerja sama.”

“Iya sama-sama pak sudah menjadi tugas kami untuk dapat melayani mitra kerja kami dengan sebaik-baiknya.”

“Ini ada sedikit dari kami pak moga-moga bisa membantu untuk perjalanan pulang Bapak besok ke Jakarta.”

“Loh jangan pak! Pelayanan kami ini gratis tanpa biaya. Pemerintah sudah lebih dari cukup membiayai kami untuk hidup sehari-hari dan mempertahankan integritas kami!”

“Sudahlah pak terima saja. Teman-teman bapak yang lain juga terima ko. Hitung-hitung balas jasa atas pelayanan bapak yang memuaskan. Hehehe.”

“Sudah tidak usah pak terima kasih..”

“Terima aja pak. Atau mau saya tambah lagi sedikit kebetulan tiket garuda sedang mahal sih ya pak.”

“Tidak terima kasih.”

“Terima pak.”

“Tidak.”

“Huh! Yasudah terserah Bapak saja selamat siang!”

“Siang Pak Doni, ini pesanan bapak yang biasa. Semoga lancar-lancar dalam perjalanan nanti ya.”

“Wah ya.. ya.. ya.. terimakasih Pak. Kebetulan sudah agak lama saya ndak ketemu keluarga di rumah.”

“Iya pak kami mengerti sekali ko. Makanya tiap-tiap pegawai kantor ini selalu saya berikan tambahan. Yah hitung-hitung uang terimakasih lah. Cuma pak Dedi itu yang ndak pernah mau kami kasih pak.”

“Ah Dedi itu sok suci memang. Biar saja orang gila itu. Jaman sekarang sok-sok idealis begitu mana bisa kaya. Teman-teman semua sudah sama-sama ngerti lah, yang penting kan sama-sama menguntungkan ya pak?”

“Hahaha. Iya pak yang penting bisnis lancar. Dasar Pak Dedi itu senangnya menolak rejeki ya. Hahaha!!”

“hahahaha!!”

“Yasudah mari pak saya permisi dulu.. Terima kasih atas pelayanannya ya Pak..”

Pemerintah sangat serius dalam mengatasi kemacetan di kota-kota besar di Indonesia. Solusi untuk semua daerah pun sebetulnya sama saja. Menggalakkan transportasi massal, membangun infrastruktur yang memadai bagi transportasi massal, memberikan ruang bagi para pejalan kaki dan pengendara sepeda, menaikkan tarif tol bagi kendaraan pribadi, menaikkan tarif parkir gedung-perkantoran dan pusat perbelanjaan, menaikkan pajak kendaraan bermotor, membatasi konsumsi BBM bersubsidi.

Kemacetan dimana-mana semakin parah! Waktu tempuh dari rumah ke kantor menjadi semakin lama! Tua di jalan! Tolong pemerintah harus segera melakukan tindakan nyata untuk mengatasi kemacetan di Indonesia! Tapi tolong,

Jangan naikkan harga BBM bersubsidi,nanti mobil kami minum apa?

Jangan naikkan tarif parkir, nanti mobil kami parkir di mana?

Jangan paksa kami naik kendaraan umum, nanti mobil kami di rumah untuk apa?

Jangan naikkan pajak kendaraan bermotor, nanti kami bisa beli kendaraan apa?

Tolong atasi kemacetan…!

Si Jenderal adalah penjahat kemanusiaan. Lebih dari tiga ribu orang meninggal saat operasi petrus dijalankan. Yang tercipta bukanlah rasa aman, tapi rasa was-was kapan saya jadi giliran.

Si Jenderal adalah koruptor nomor satu Indonesia. Harta-hartanya tersembunyi dengan aman di mana-mana, Sekjen PBB Ban Ki Moon bahkan membuat tim khusus untuk me-recover harta milik negara yang dikorupsi oleh mantan orang-orang berkuasa dengan Soeharto menjadi target utama.

Si Jenderal adalah diktator paling berkuasa. Mengebiri fungsi-fungsi politik kepartaian, menuai pundi-pundi suara dari benih-benih ketakutan yang disebar, melibas habis calon-calon pesaing masa depan.

Bapak Jenderal mantan presiden adalah pahlawan pembangunan. Lewat tangan beliau lah Indonesia menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia. Gedung-gedung pencakar langit dan jalan layang dibangun semegah-megahnya.

Bapak Jenderal mantan presiden adalah presiden yang paling sederhana. Rumahnya hanya berisi perabot-perabot biasa jauh dari kesan kemewahan. Beliau bahkan sering berkata kalau masih ada harta saya yang memang milik negara silahkan diambil saja.

Bapak Jenderal mantan presiden adalah pemimpin paling demokratis. 32 tahun beliau terpilih dalam pemilu yang jujur dan adil membuktikan betapa rakyat begitu mencintainya. Sekarang pun banyak suara-suara rakyat yang merindukan kepemimpinan beliau. 

Isih penak jamanku tho?

Pengelolaan sumber daya alam yang terbatas seharusnya dilakukan bersama-sama dan penggunaannya pun diputuskan bersama untuk kepentingan masyarakat dunia. Kemiskinan, kesenjangan sosial dan kelaparan adalah permasalahan yang terjadi ketika sumber daya alam yang terbatas itu hanya dikuasai dan dikelola oleh segelintir kelompok saja. Dalam hitung-hitungan kasar 20% masyarakat terkaya di dunia menikmati hampir 85% sumber daya dunia. Sementara 80% sisanya hanya menikmati sekitar 15% saja. This isn’t right, We have to change the rule.

inequality2

Kemakmuran itu sebenarnya soal mudah. Kuasai harta sebanyak-banyaknya, manage hartanya, lalu penuhi kebutuhan dan keinginanmu sebanyak-banyaknya. Kalau tidak ada harta yang bisa dimanage, tidak ada harta yang bisa dimiliki, kurangi kebutuhan dan keinginanmu. That’s the general rules to survive this world.

Setiap hari masyarakat mendapat bagian yang sama atas sayuran, daging dan bahan makanan pokok sesuai kebutuhan masing-masing keluarga. Tidak ada yang terlalu mewah, tidak ada yang terlalu buruk. Tidak ada kaviar, dan tidak ada nasi aking.

Ratusan lansia, ribuan balita, jutaan tunawisma, ratusan juta masyarakat miskin merintih kelaparan ketika dua orang kekasih duduk di sebuah balkon restoran mewah memakan daging domba seharga ribuan dollar.

Liberalisme sesat karena pahamnya yang kuat yang berkuasa.

Sosialisme sesat karena pahamnya yang membagi sama rata.

Gila siapa, siapa yang gila?


Pendapatan daerah Propinsi Jambi dan keterkaitannya dengan dana transfer pemerintah pusat

Pendapatan daerah pada Propinsi Jambi seperti yang tercantum dalam APBD pemerintah daerah Propinsi Jambi terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), pendapatan transfer dan lain-lain pendapatan yang sah. Pendapatan daerah menjadi penting karena akan menentukan berapa besar jumlah belanja daerah yang dapat digunakan dalam tahun anggaran tertentu untuk menjalankan fungsi-fungsi strategis dan roda pemerintahan di daerah. Maka menarik untuk dilakukan analisa terkait kemampuan pemerintah daerah Propinsi Jambi dalam memaksimalkan PAD-nya untuk membiayai kegiatan-kegiatan tersebut. Menarik juga untuk menganalisa sejauh mana ketergantungan Propinsi Jambi terhadap pendapatan transfer dari Pemerintah pusat dan seberapa besar ketimpangan fiskal antara kebutuhan fiskal dengan kemampuan fiskal yang dimiliki Propinsi Jambi.

Berdasarkan data terkini yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia Propinsi Jambi, realisasi pendapatan daerah pada Propinsi Jambi selama tiga tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Bila pada tahun 2010 berjumlah Rp1.625,65 miliar, pada tahun 2012 angkanya meningkat hingga mencapai Rp2.662,91 miliar. Peningkatan jumlah penerimaan daerah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Tabel I tabel realisasi pendapatan daerah 2010-2012                                 (miliar rupiah)

Jenis Penerimaan

Tahun Anggaran

2010

2011

2012

Pendapatan Asli Daerah

673,49

961,59

995,65

Transfer Pemerintah pusat-Dana Perimbangan

931,24

1.107,12

1341,20

Transfer Pemerintah pusat-Lainnya

324,38

Lain-lain pendapatan yang sah

20,93

18,00

1,67

Jumlah (total)

1.625,65

2.086,71

2.662,91

 

Faktor yang pertama adalah Silpa Propinsi Jambi yang cenderung naik dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2010 dan 2011 Silpa tercatat sebesar Rp201,20 miliar dan Rp353,26 miliar. Kecenderungan naiknya Silpa Propinsi Jambi di setiap tahunnya dapat menandakan 3 hal. Pertama adalah pemerintah daerah berhasil memaksimalkan penerimaan daerah melebihi target yang telah ditetapkan setiap tahunnya, kedua pemerintah daerah berhasil melakukan efisiensi pelaksanaan belanja daerah atau yang ketiga pemerintah daerah kurang mengoptimalkan belanja daerah sehingga target belanja daerah dari tahun ke tahun tidak tercapai.

Grafik I proporsi realisasi pendapatan daerah 2009-2011 

blog image

Faktor yang kedua adalah semakin besarnya jumlah pendapatan transfer (dana perimbangan) yang diterima dari pemerintah pusat. Berdasarkan komponen penyusunan rencana pendapatan daerah, dana perimbangan merupakan dana yang menjadi penyumbang terbesar dalam rencana pendapatan daerah Propinsi Jambi dengan proporsi melebihi jumlah 50% di setiap tahunnya. Rasio kemandirian daerah, yaitu rasio PAD terhadap total pendapatan dan rasio dana transfer terhadap total pendapatan pada pendapatan propinsi Jambi juga mengindikasikan adanya ketergantungan yang cukup tinggi kepada pemerintah pusat.

Tabel II rasio PAD dan dana transfer terhadap total pendapatan                (persentase)

Rasio

Tahun Anggaran

2010

2011

2012

Rasio PAD terhadap total pendapatan

41,42

46,08

37,39

Rasio dana perimbangan terhadap total pendapatan

57,29

53,05

62,56

 

Tingginya ketergantungan pemerintah daerah Propinsi Jambi terhadap dana transfer pemerintah pusat dapat terlihat dari ketimpangan rasio PAD dan dana perimbangan terhadap total pendapatan daerah Propinsi Jambi. Rasio dana perimbangan pada setiap tahunnya selalu berada di atas 50% atau berarti lebih dari setengah total pendapatan Propinsi Jambi. Hal ini dalam jangka panjang akan berpengaruh negatif terhadap ketahanan fiskal Propinsi Jambi.

Tabel III Rasio PAD dan dana transfer pada Propinsi Lampung                 (persentase)

Rasio

Tahun Anggaran

2010

2011

2012

Rasio PAD terhadap total pendapatan

53,04

55,33

41,38

Rasio dana perimbangan terhadap total pendapatan

45,22

41,94

34,45

 

Bila kita membandingkan rasio kemandirian daerah Propinsi Lampung, rasio kemandirian daerah pada Propinsi Jambi memang terlihat lebih rendah. Rasio PAD terhadap total pendapatan daerah Propinsi Lampung berturut-turut semenjak tahun 2010-2012 adalah sebesar, 53,04% , 55,33% , dan 41,38%. Penurunan rasio PAD yang terjadi pada tahun 2012 bukanlah disebabkan melonjaknya rasio dana perimbangan. Tetapi karena terjadi lonjakan realisasi yang cukup signifikan pada sektor penerimaan lain yang sah. Hal ini menegaskan posisi Propinsi Lampung yang sedikit demi sedikit melepaskan ketergantungan fiskalnya dari Pemerintah pusat.

Transfer ke daerah adalah amanat Undang-Undang No.33 tahun 2004 tentang Desentralisasi Fiskal di Indonesia yang memang harus dilakukan untuk mengatasi persoalan ketimpangan fiskal vertikal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, maupun ketimpangan fiskal horisontal antar pemerintah daerah. Ketepatan sasaran dalam melakukan proses transfer ke daerah adalah suatu keharusan bagi pemerintah pusat. Sehingga dalam proses transfer ke daerah terdapat syarat-syarat yang harus dipatuhi oleh pemerintah daerah dalam menggunakan dana transfer tersebut. Hal ini menyebabkan terbatasnya kebijakan fiskal yang dapat diambil oleh pemerintah daerah.

meningkatkan rasio kemandirian daerah pada tiap-tiap propinsi adalah sesuatu yang perlu untuk dilakukan. Selain untuk membantu mengurangi beban transfer ke daerah oleh pemerintah pusat, meningkatkan rasio kemandirian daerah juga dapat memberikan lebih banyak keleluasaan ruang gerak fiskal bagi pemerintah daerah untuk dapat melakukan fungsi-fungsi strategisnya dalam mengambil kebijakan ekonomi yang diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat.Meningkatkan rasio kemandirian daerah juga berarti memperkuat pondasi fiskal pada masing-masing propinsi. Yang pada akhirnya akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat di masing-masing propinsi.

Propinsi Jambi sebagai salah satu propinsi yang tingkat pertumbuhan ekonominya di triwulan IV 2012 lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional dengan tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 9,09% (yoy), memiliki potensi untuk lebih meningkatkan jumlah Penerimaan Asli Daerahnya. Beberapa hal dapat dilakukan diantaranya adalah dengan melakukan ekstensifikasi perpajakan daerah dengan memperhatikan potensi pajak yang baru sehubungan dengan tingginya pertumbuhan ekonomi pada Propinsi Jambi. Propinsi Jambi diharapkan dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang sedang tinggi untuk meningkatkan rasio kemandirian daerah di propinsinya. Dengan semakin mandirinya fiskal Propinsi Jambi, diharapkan ketergantungan Propinsi Jambi terhadap dana transfer dari pemerintah pusat dapat berkurang. Sehingga pemerintah Propinsi Jambi dapat lebih leluasa mengambil kebijakan-kebijakan yang bersifat strategis tanpa mengganggu pembiayaan belanja-belanja yang bersifat wajib.

 

Data Sumber:

  • Kajian Ekonomi Regional Bank Indonesia Propinsi Jambi Triwulan IV 2011 & 2012
  • Kebijakan Fiskal Regional, Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan
  • Jambi dalam angka tahun 2012, Badan Pusat Statistik

Sepak bola kertas: A nice piece of childhood memories

Wah ndak terasa sudah tiga minggu lebih blog ini terbengkalai ya. Maklum pekerjaan di kantor sedang padat-padatnya. seminggu ini adalah cut-off untuk data-data yang masuk dalam laporan semesteran. Sementara laporan semesteran di-deadline untuk selesai paling lambat di pertengahan bulan Juli. Jadi rasanya sulit sekali mau menengok blog ketika pekerjaan-pekerjaan ini masih setia mempelototi bahkan sampai di akhir pekan.😀

Anyway, saya mau mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi kawan-kawan yang menjalankannya. Semoga ibadah dan segala perbuatan baik yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini pada akhirnya dapat berimplikasi positif dengan tingkat kedewasaan kita dalam bernegara dan bermasyarakat. Ndak sekedar euforia numpang lewat yang berulang satu tahun sekali saja.🙂

Bicara soal puasa, ada yang menarik saat saya memantau timeline twitter beberapa waktu yang lalu. Ada sebuah akun yang menawarkan lomba menulis blog dengan tema permainan tradisional yang sering kamu mainkan di masa kecil. Walaupun tidak begitu berminat (baca: berminat tapi malas karena platform blognya sudah ditentukan pihak penyelenggara😀) dengan lombanya, tapi saya tertarik dengan tema yang diberikan. Memori saya langsung flashback ke masa beberapa tahun (umur disamarkan, topik sensitif, sedang insecure dengan umur sendiri) yang silam saat saya sedang asyik mengejar layang-layang yang putus, atau saat memanjat pagar rumah yang digembok agar bisa bermain sepakbola bersama kawan-kawan di lapangan.

Sebagai anak-anak yang tumbuh besar di daerah sub-urban, masa kecil saya bisa dibilang cukup beruntung. Beruntung dalam artian saya sempat merasakan beragam permainan tradisional yang biasanya hanya bingar di daerah pedesaan. Sebut saja gangsing, kelereng, layang-layang, petasan, engklek, aneka petak (petak umpet, petak jongkok, petak benteng dsb) dan banyak lagi permainan atraktif lainnya yang membuat masa kecil saya cukup menyenangkan untuk dikenang.

Di antara banyaknya pilihan permainan itu, ada satu permainan yang mempunyai kesan cukup mendalam bagi saya. Permainan ini adalah permainan yang sempat menjadi favorit kawan-kawan di RT kami bahkan sampai menarik minat anak-anak kecil dari RT-RT tetangga. Namanya adalah sepakbola kertas. Permainan ini menjadi pilihan utama bagi saya dan kawan-kawan dulu ketika menghadapi liburan panjang di bulan puasa.

Sebetulnya permainan sepakbola kertas ini cukup simpel. Dimainkan di lantai dengan ukuran yang telah ditentukan sebelumnya, kedua tim sepakbola harus bertanding mencari gol sebanyak-banyaknya sampai waktu habis. persis seperti pertandingan sepakbola sebenarnya. Bahan yang dibutuhkan cukup barang-barang bekas yang ada di sekitar kita. Untuk membuat gawang, pada awalnya kita menggunakan kertas yang dilipat sedemikian rupa hingga sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Untuk pemain  kami membuatnya dari kertas karton ataupun dari kertas bekas lainnya. Yang penting bahannya cukup keras dan dapat diberdirikan dengan melipat kedua ujungnya.

credit image: rumahanvari.files.wordpress.com

Seiring dengan makin intensnya permainan, adjustment-adjustment pun mulai dilakukan. Dari membuat gawang menggunakan potongan sumpit dan kawat sebagai jaring-jaringnya, membuat regulasi-regulasi baru seperti throw in dan corner kick ketika bola yang ditendang dari lapangan kita terkena pemain lawan dan keluar dari arena permainan, sampai mengatur berapa pemain yang dibolehkan berada di kotak penalti ketika terjadi corner kick ataupun throw in. Regulasi-regulasi baru tersebut kami diskusikan bersama-sama dengan melibatkan seluruh peserta kompetisi sepakbola kertas di RT kami. Bayangkan anak-anak seusia 10-15 tahun duduk bersama membicarakan regulasi kompetisi sepak bola kertas dengan serius dan bersemangat. Anggota EXCO PSSI yang selalu ricuh saat rapat membahas dualisme kompetisi Liga Indonesia pasti malu kalau melihat rapat kami pada waktu itu.😀

credit image: hannymaness.blogspot.com

Well, itu 12 tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kalau dipikir lagi banyak juga loh pelajaran yang saya dapat dari permainan sepak bola kertas itu. Salah satunya adalah, permainan ini yang membantu menumbuhkan minat saya dalam mengolah data dan angka. Sebagai panitia, saya ditugaskan untuk mendata jumlah gol dan assist dari masing-masing pemain untuk mencari topskor, top assist dan Most Valuable Player dari kompetisi sepak bola kertas tahunan itu. Berawal dari situlah ketertarikan saya akan mengolah data dan angka terus berlanjut dan pada akhirnya terbukti sangat membantu dan berpengaruh besar dalam karir saya di bidang ekonomi dan pelaporan keuangan.

Permainan di masa kecil selain menyenangkan ternyata di beberapa aspek juga memberi efek positif dalam menumbuhkan daya imajinasi dan menginspirasi masa depan seseorang. Seperti Wright bersaudara yang menemukan mimpinya untuk terbang ketika melihat layang-layang di angkasa, atau seperti saya yang tanpa sengaja menemukan minat dalam permainan sepak bola kertas, atau seperti mereka yang menjadi pengusaha properti sukses karena kecintaannya dulu dalam bermain monopoli. Semuanya tanpa disadari berawal dari permainan yang kita gemari di waktu kecil. Luar biasa kan?

credit image: inihanifpunya.blogspot.com

Lalu, bagaimana dengan kalian?  Adakah permainan masa kecil yang begitu kalian gemari sejak kecil dan ternyata mempunyai impact yang cukup besar begitu kalian beranjak dewasa?😀


Difficulties in assembling Regional Fiscal Policy in Jambi Province

jambi (1)

Regional fiscal policy (RFP) is a new project initiated by Directorate General of Treasury, a treasury department in Indonesian Ministry of Finance. Its main objective is to do a thorough spending review in government’s annual expenditure in every province in Indonesia, and to compile the reviewed data to give the government a more complete picture of recent national economic condition.

While the main objective is a positive one, the goal set to the project is magnificent. It’s believed that the completion of this project would help the government to solve some national issues such as poverty, a widening gap between the poor and the rich, or a slow improvement in Human Development Index (HDI) despite the economics ‘boom’ and the annually increasing state budget. As it was stated by the Director General of Treasury Mr. Agus Suprijanto, “From 2005 to 2012 we’ve managed to tripled the amount of state budget, we’ve dedicated these massive budget to the critical sector such as public health and education. But It was a shame that our HDI hasn’t shown much improvement in recent years. So the problem might be came from efficiency. This is why this spending review project is important. It was initiated to find the inefficient program in government expenditure and to do a better job reallocating expenditures to spend the budget rightly.”

Yet as positive as the project might become, there’re always some problem waiting to be solved. While this positive statements came all the way from the treasury headquarters (DJPBN central office), you can’t feel the same atmosphere from the province office that supposed to do the job done. There are at least three major concerns that makes the project a little trickier than it should be.

The first concern is their human resources. It wasn’t for long ago that the treasury province offices got some transformation in organisational structure. It must be hard for the employee to do such a new and massive project when they’re still in their adaptive phase for the new environment. The second one is the data. After visiting some government statistic office in Jambi area, we found fact that the most updated data they had were only from 2011. It will be difficult as the goal is to provide the most recent condition in national economics. The last concern the treasury province offices have to face is time. With so many difficulties they have to face, the result of this RFP must be delivered in August. So it is a race against time until the end.

As difficult as it will be, still many of this treasury province office feel rather excited to do the job done. They know the importance of the task given to them. It is also important for them to build the credibility once these office had. Mrs. Tisari Yona Geumila the head of RFP project in Jambi treasury office said, “It is a whole new task for us in province. But no matter what we’ve no choice but to do the job as good as possible. We will work our ass of that’s for sure. But in some way we’re very excited to do this because the job give us a new light to hope for.”

The Regional Fiscal Policy and the spending review project is quite a difficult job to be done. But after seeing the positive athmosphere surrounding these project, public must be sure there will be some good result come from those. Where there’s a good deed there will be a good way. And as Mr. Agus Suprijanto said, the spending review project is just our beginning. Our legacy and our proof that even an organization as big as this treasury office could transform their self into some more flexible form. With the spending review project the existence of this treasury office will always be guaranteed even in this constant changing in world economics.


Interesting facts in soon to be world class Japanese football

Siapa yang ndak kagum melihat permainan Jepang ketika bertanding melawan Italia di piala Konfederasi 2013 kemarin.  sebagai sesama asians bangga rasanya melihat sepakbola kelas dunia yang mereka pertontonkan di depan jutaan pasang mata penggila piala konfederasi 2013 ini.

Biasanya bila kita bicara kiprah negara-negara Asia di kancah sepakbola internasional, komentar yang sering kita dengar adalah seperti ini:

“Wah hebat bisa kalah cuma 2-1 dari Brazil!”

“Bisa nahan seri Italia aja udah luar biasa banget tuh.”

“Walopun kalah gede tapi semangat juang mereka luar biasa. Bravo!”

Tapi ketika Jepang kalah lawan Italia kemarin komentar-komentar seperti di atas nyaris tidak ada. Yang banyak adalah ungkapan kekaguman bagaimana sepanjang 90 menit pertandingan, Italia yang merupakan runner-up piala Eropa tahun 2012 lalu dipaksa bekerja ekstra keras dan bertahan mati-matian. Bahkan gol terakhir yang memastikan kemenangan Italia saat itu disambut dengan kekecewaan komentator yang spontan berkata,

“It’s a complete robbery. Japan definitely deserve more..” 

Jepang bahkan unggul 2-1 dari Italia di paruh babak pertama

Jepang bahkan unggul 2-1 dari Italia di paruh babak pertama

Melihat bagaimana berkembangnya sepak bola di Jepang dalam kurun waktu 15 tahun terakhir memang sangat mengagumkan. Kekaguman akan langkah tegap Jepang menuju negara sepakbola yang disegani dunia pulalah yang menggelitik saya untuk menggali sedikit lebih jauh tentang Jepang dan sepakbolanya.

Sejak keikutsertaannya yang pertama pada Piala Dunia 1998, Jepang terus mencatatkan dirinya sebagai negara yang tak pernah absen dari gelaran sepakbola sejagat 4 tahunan tersebut. Jepang juga tercatat sebagai negara yang paling sering menjuarai Piala Asia dengan 4 piala yang disandangnya. Sungguh prestasi yang luar biasa mengingat kompetisi sepakbola profesional mereka (J-League) baru terbentuk di tahun 1993.

Adalah Tsubasa Ozora pemuda pecinta sepakbola dengan slogannya “Bola adalah teman” yang berhasil membawa demam sepakbola ke negeri matahari terbit itu. Sepakbola sebelumnya bukanlah olah raga yang begitu popular di Jepang. Pesonanya kalah dengan baseball yang telah lebih dulu popular dan memiliki koshien sebagai holy land dari kompetisi baseball tingkat nasional di Jepang. Baseball Jepang telah menembus level dunia dengan nama-nama seperti Eiji Sawamura dan Hideki Matsui yang bermain di MLB (Major League Baseball), Liga baseball paling bergengsi di dunia. Maka ketika seorang bocah berumur 20-an tahun berhasil menembus skuad utama di klub sepakbola sebesar Sao Paulo dan Barcelona, tentu orang menjadi bertanya-tanya siapakah gerangan Tsubasa Ozora?

And trigerred with just that simple question, the era of football madness in Japan begin.

Tsubasa Ozora saat bermain di Barcelona (Catalonia)

Tsubasa Ozora saat bermain di Barcelona (Catalonia)

Tsubasa Ozora mungkin  hanya sebuah karakter dalam manga (komik) ciptaan Yoichi Takashi. Namun lebih dari itu Tsubasa adalah panutan bagi pemuda-pemuda pecinta sepakbola di Jepang. Mimpinya untuk membawa Jepang menjadi juara Piala Dunia, seperti virus yang luar biasa ganas berhasil menulari mimpi-mimpi para pembacanya. Tsubasa  dianggap memiliki peranan sentral dalam berkembang pesatnya minat akan olahraga sepakbola di Jepang. Format manganya yang informatif dan menjelaskan secara detil akan konsep piala dunia juga dianggap memiliki peranan besar dalam mengedukasi rakyat Jepang akan sepakbola khususnya kaum muda.

Manga Captain Tsubasa adalah pionir bagi manga-manga bergenre sepakbola lainnya. Setelah Cpt. Tsubasa mulai bermunculan manga-manga lain seperti Shoot, Offside, Fantasista dan banyak lagi manga yang bertemakan sepakbola. Dari manga-manga itulah kemudian ‘pahlawan-pahlawan’ sepakbola jepang bermunculan. Nama-nama seperti Kubo Yoshiharu, Goro ataupun Teppei Sakamoto muncul dan berkembang menjadi ikon manga sepakbola Jepang menemani Tsubasa yang telah muncul terlebih dahulu. Kemunculan karakter-karakter inilah yang kemudian memunculkan stereotipe pemain sepakbola yang ideal. Entah atas minat dan kesukaan yang serupa, atau memang posisi ini adalah posisi yang paling enak untuk diceritakan karena unsur imajinasinya yang luas, pemain gelandang serang bernomor punggung 10 dengan fantasi dan visi bermain yang bagus adalah sebuah keharusan untuk menjadi tokoh utama bagi para penulis manga sepakbola Jepang. Pemain dengan label Fantasista.

2196439-yoshiharu_kubo_05

Sebenarnya semakin ke sini negara-negara di Eropa semakin meninggalkan pengkultusan akan nomor punggung. 10 tahun yang lalu kita tak akan bisa membayangkan pemain sekelas Kevin Prince Boateng menggunakan nomor punggung 10 di AC Milan. Itu seperti mengganti Ferarri dan Lamborghini tuamu dengan mobil Ford keluaran terbaru.

You got brand new engine, better fuel efficiency but less class and beauty.

Namun lain di Eropa lain lagi di Jepang. Harus diakui Manga bagi Jepang bukanlah sekedar bacaan dan hiburan di waktu senggang. Manga sudah menjadi sebuah alat komunikasi yang efektif dalam menyebarkan sebuah ide dan gagasan. Maka tak heran bila manga-manga sepakbola Jepang yang telah berhasil meng-influence banyak pemuda di dunia, juga memberi pengaruh yang kuat bagi masyarakat Jepang dalam pandangannya akan pesepakbola yang ideal. Inception yang ditanamkan para mangaka bahwa pesepakbola yang ideal adalah pemain yang memiliki tipe serupa dengan Tsubasa ataupun Kubo Yoshiharu telah tertanam begitu kuat. Hasilnya? Entah kebetulan entah tidak, statistik berbicara sejak era keemasan sepakbola Jepang dimulai pemain Jepang yang berhasil menembus level dunia kebanyakan adalah pemain dengan karakteristik yang hampir serupa dengan Tsubasa ataupun Kubo. Gelandang Penyerang.

Ketika Negara-negara Eropa sekarang seperti kesulitan mendapatkan pemain bertipe fantasista, Jepang tak pernah kekurangan talenta pada posisi yang satu ini. Sejak lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya di tahun 1998 sampai sekarang, Jepang selalu mampu menelurkan pemain bertipe playmaker yang handal. Sebut saja Hidetoshi Nakata, Shinji Ono, Shunsuke Nakamura, Keisuke Honda dan yang paling anyar si anak emas Juergen Klopp, Shinji Kagawa. Mereka adalah fantasista-fantasista handal yang kemampuannya telah teruji di level tertinggi Eropa. Dan bukanlah kebetulan kalau mereka semua mengaku sebagai fans Tsubasa/Kubo dan gemar membaca/menonton cerita tersebut sejak mereka kecil.

nakata          106327-keisuke-honda

kagawa                  Shunsuke_Nakamura_Japan

They resemble Tsubasa’s or Kubo’s style of play almost in every sense.

Mengklaim adanya hubungan antara Tsubasa dan karakter permainan para pesepakbola Jepang memang terasa berlebihan dan kurang berdasar. Apalagi kemudian menghubungkannya dengan kesuksesan tim nasional Jepang di kancah persepakbolaan internasional. Utamanya kesuksesan Jepang dan pemainnya berlaga di level sepakbola dunia tentu adalah buah kerja keras dan ketekunan asosiasi sepak bola Jepang dalam mengembangkan liga profesional dan mengolah bakat talenta-talenta mudanya.

Namun juga tidak bisa dipungkiri manga-manga sepakbola ini memiliki andil penting dalam memberikan karakter seorang ‘legenda’ sepakbola bagi Jepang. Ketika mereka sadar belum memiliki pesepakbola yang pantas dijadikan panutan bagi kaum muda, mereka membuat sendiri sosok panutan itu pada diri Tsubasa Ozora, Kubo Yoshiharu ataupun Teppei Sakamoto. Sosok inilah yang kemudian mengenalkan sepakbola, memberi inspirasi dan mendorong para pemuda Jepang untuk dapat berani bermimpi.

Manga bagi masyarakat Jepang bukanlah sekedar bacaan dan hiburan di kala senggang. Manga adalah alat komunikasi yang efektif dan alat penebar inspirasi. Manga adalah sebuah visualisasi akan mimpi-mimpi. Mimpi yang pada akhirnya menjadi kenyataan dalam wujud sepakbola indah ala Soccer Nippon Daihyo.

Salut! 


Just Another Starter?

Sedikit cerita,

Sudah 2 blog dibuat dan berakhir hanya dengan 1 post salam pembuka.

Blog pertama jaman friendster dulu sepertinya, itu cukup aktif tapi materi tulisannya khas abegeh SMP tahun 2000-an. cute. attractive. gak tega aja untuk bilang norak sebenernya.

Blog yang kedua namanya tidak terlalu naif. dibuat di blogspot dengan optimisme yang cukup tinggi dan animo yang lumayan dari temen-temen pembaca. Sayang juga harus berakhir dengan kebanyakan cuma copy paste dari tulisan di notes facebook.

Ngomong-ngomong saya Tito Eldhika B.P.

Seperti yang tertera di profil, saya bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian di Indonesia.

Kebetulan sekarang ditempatkan di Kuala Tungkal, salah satu kabupaten pada Provinsi Jambi.

Lebih jauh tentang saya akan lebih dibahas seiring berkembangnya postingan pada blog ini. (terdengar seperti topik yang gak menarik ya?)😀

Sekarang kembali pada masalah blog tadi,

Saya sudah sedikit menganalisa kenapa saya sering sekali bergonta-ganti blog padahal konten yang dipost pun hanya sedikit.

Rasanya saya memang punya masalah yang serius dengan fokus dan ekspektasi.

Saya memiliki ekspektasi tinggi pada diri saya akan bagaimana hidup harus berjalan.

Contoh kecil dalam membuat blog,

apa yang ada di kepala saya selalu mensugesti untuk membuat analisa yang komprehensif akan suatu peristiwa politik maupun ekonomi yang terjadi di dunia.’

“ngapain buat blog kalo cuma untuk curhat-curhat tok. siapa juga yang mau denger.” kira-kira begitulah bisikan yang sering terdengar.

Sayang fokus dan mimpi yang sering terpecah seakan menjadi penghambat utama dalam menetasnya telur-telur inpirasi di kepala itu menjadi sebuah karya nyata.

Akhirnya judul-judul menarik seperti:

*otonomi daerah, benarkah jadi lembaran terakhir pada sejarah politik Indonesia?

*Kuala Tungkal, sebuah contoh kecil hegemoni pemimpin daerah

*Subsidi BBM benarkah untuk rakyat?

*Sulitnya menyusun spending review yang komprehensif di negeri ini

dan judul-judul lain menjadi terbengkalai dalam draft-draft yang tak pernah terselesaikan. mangkrak kalo istilah Hambalangnya.

Maka ketika saya memutuskan untuk ngeblog lagi sekarang patut ditunggu apakah blog ini akan menjadi seperti pendahulunya,

hanya kenikmatan sesaat tanpa bentuk dan kepastian.

Atau menjadi torehan awal dalam footnotes-footnotes panjang pengisi cerita dalam kehidupan saya nantinya.

Yang jelas blog ini terbentuk tanpa ekspektasi berlebihan seperti pendahulunya.

Tujuannya tentu tetap tinggi.

Hanya seperti sebuah kurva permintaan dan penawaran sederhana, garis ekspektasi dan realitas akan memotong di satu titik pertemuan sehingga ekuilibrium antara keduanya dapat tercapai.

Harapannya ekspektasi yang tinggi dalam menghasilkan sebuah tulisan yang berkualitas dapat bertemu dengan kenikmatan dalam menuliskannya.

Ketika kenikmatan menulis telah didapatkan tentu blog ini tidak akan mangkrak seperti para pendahulunya.

Semoga!🙂

Regards

Tito E.B.P