Gila siapa, siapa gila?

Seorang pria selama 25 tahun terakhir hidupnya bekerja sebagai pengayuh becak. Penghasilannya setelah dipotong dengan uang makan sehari-hari seluruhnya  disumbangkan kepada sebuah yayasan yang menampung anak-anak terlantar dan yatim piatu. Sampai menghembuskan nafas terakhirnya pria ini terus hidup dengan sederhana tanpa putus memberikan sumbangan kepada yayasan tersebut. Total uang yang ia sumbangkan selama ia hidup sebetulnya cukup untuk membeli sebuah rumah sederhana dan kehidupan yang lebih layak.

Manusia sebagai makhluk ekonomi beraktivitas melakukan suatu aksi dan reaksi berdasarkan insentif. Ada proses memikirkan cost and benefit dalam pengambilan keputusan untuk melakukan sesuatu perbuatan. Hampir tidak mungkin bagi manusia melakukan sesuatu dengan mengabaikan dampak positif bagi dirinya. Hanya orang gila, nabi dan pemuka agama yang tidak begitu memedulikan keduniawian yang melakukan sesuatu tanpa berpikir opportunity cost.

Seorang ibu muda mengantri dalam sebuah antrian setoran tabungan bank yang cukup panjang. Di depan, sang teller sibuk melayani nasabah yang silih berganti datang dari kiri dan kanan tanpa memperhatikan antrian panjang di belakang. Beberapa orang dalam antrian mulai gusar dan meneriaki para penyerobot untuk tertib dalam antrian. Karena tak dihiraukan akhirnya mereka serentak maju menyerobot meninggalkan antrian mengerubungi meja teller. Bapak berseragam polisi di belakang si ibu muda mencoba mengajak untuk ikut maju meninggalkan antrian. Si ibu muda menolak dan memilih menunggu gilirannya dengan sabar.

Sesampainya di depan sang teller menyapa dengan permohonan maaf, menjelaskan kalau ia tak kuasa menolak orang-orang yang datang menyerobot antrian karena mereka semua adalah customers yang harus dihargai, bahkan berkata seandainya ibu muda tadi ikut maju menyerobot antrian ia akan melayaninya terlebih dahulu karena walau bagaimanapun wanita tetap menjadi prioritas pelayanan utama. Di sebelah si ibu muda, seorang nasabah yang sebelumnya mengantri 3 orang di belakangnya telah menyelesaikan transaksi. Sebelum pulang nasabah itu sempat berkata, “Ibu terlalu tertib sih. Coba kalo ikut ke depan sama saya tadi pasti sekarang sudah selesai. Toh semua juga melakukan hal yang sama.” 

“Terimakasih atas kerjasamanya yang baik selama ini Pak Dedi. Semoga di masa depan kita masih bisa terus bekerja sama.”

“Iya sama-sama pak sudah menjadi tugas kami untuk dapat melayani mitra kerja kami dengan sebaik-baiknya.”

“Ini ada sedikit dari kami pak moga-moga bisa membantu untuk perjalanan pulang Bapak besok ke Jakarta.”

“Loh jangan pak! Pelayanan kami ini gratis tanpa biaya. Pemerintah sudah lebih dari cukup membiayai kami untuk hidup sehari-hari dan mempertahankan integritas kami!”

“Sudahlah pak terima saja. Teman-teman bapak yang lain juga terima ko. Hitung-hitung balas jasa atas pelayanan bapak yang memuaskan. Hehehe.”

“Sudah tidak usah pak terima kasih..”

“Terima aja pak. Atau mau saya tambah lagi sedikit kebetulan tiket garuda sedang mahal sih ya pak.”

“Tidak terima kasih.”

“Terima pak.”

“Tidak.”

“Huh! Yasudah terserah Bapak saja selamat siang!”

“Siang Pak Doni, ini pesanan bapak yang biasa. Semoga lancar-lancar dalam perjalanan nanti ya.”

“Wah ya.. ya.. ya.. terimakasih Pak. Kebetulan sudah agak lama saya ndak ketemu keluarga di rumah.”

“Iya pak kami mengerti sekali ko. Makanya tiap-tiap pegawai kantor ini selalu saya berikan tambahan. Yah hitung-hitung uang terimakasih lah. Cuma pak Dedi itu yang ndak pernah mau kami kasih pak.”

“Ah Dedi itu sok suci memang. Biar saja orang gila itu. Jaman sekarang sok-sok idealis begitu mana bisa kaya. Teman-teman semua sudah sama-sama ngerti lah, yang penting kan sama-sama menguntungkan ya pak?”

“Hahaha. Iya pak yang penting bisnis lancar. Dasar Pak Dedi itu senangnya menolak rejeki ya. Hahaha!!”

“hahahaha!!”

“Yasudah mari pak saya permisi dulu.. Terima kasih atas pelayanannya ya Pak..”

Pemerintah sangat serius dalam mengatasi kemacetan di kota-kota besar di Indonesia. Solusi untuk semua daerah pun sebetulnya sama saja. Menggalakkan transportasi massal, membangun infrastruktur yang memadai bagi transportasi massal, memberikan ruang bagi para pejalan kaki dan pengendara sepeda, menaikkan tarif tol bagi kendaraan pribadi, menaikkan tarif parkir gedung-perkantoran dan pusat perbelanjaan, menaikkan pajak kendaraan bermotor, membatasi konsumsi BBM bersubsidi.

Kemacetan dimana-mana semakin parah! Waktu tempuh dari rumah ke kantor menjadi semakin lama! Tua di jalan! Tolong pemerintah harus segera melakukan tindakan nyata untuk mengatasi kemacetan di Indonesia! Tapi tolong,

Jangan naikkan harga BBM bersubsidi,nanti mobil kami minum apa?

Jangan naikkan tarif parkir, nanti mobil kami parkir di mana?

Jangan paksa kami naik kendaraan umum, nanti mobil kami di rumah untuk apa?

Jangan naikkan pajak kendaraan bermotor, nanti kami bisa beli kendaraan apa?

Tolong atasi kemacetan…!

Si Jenderal adalah penjahat kemanusiaan. Lebih dari tiga ribu orang meninggal saat operasi petrus dijalankan. Yang tercipta bukanlah rasa aman, tapi rasa was-was kapan saya jadi giliran.

Si Jenderal adalah koruptor nomor satu Indonesia. Harta-hartanya tersembunyi dengan aman di mana-mana, Sekjen PBB Ban Ki Moon bahkan membuat tim khusus untuk me-recover harta milik negara yang dikorupsi oleh mantan orang-orang berkuasa dengan Soeharto menjadi target utama.

Si Jenderal adalah diktator paling berkuasa. Mengebiri fungsi-fungsi politik kepartaian, menuai pundi-pundi suara dari benih-benih ketakutan yang disebar, melibas habis calon-calon pesaing masa depan.

Bapak Jenderal mantan presiden adalah pahlawan pembangunan. Lewat tangan beliau lah Indonesia menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia. Gedung-gedung pencakar langit dan jalan layang dibangun semegah-megahnya.

Bapak Jenderal mantan presiden adalah presiden yang paling sederhana. Rumahnya hanya berisi perabot-perabot biasa jauh dari kesan kemewahan. Beliau bahkan sering berkata kalau masih ada harta saya yang memang milik negara silahkan diambil saja.

Bapak Jenderal mantan presiden adalah pemimpin paling demokratis. 32 tahun beliau terpilih dalam pemilu yang jujur dan adil membuktikan betapa rakyat begitu mencintainya. Sekarang pun banyak suara-suara rakyat yang merindukan kepemimpinan beliau. 

Isih penak jamanku tho?

Pengelolaan sumber daya alam yang terbatas seharusnya dilakukan bersama-sama dan penggunaannya pun diputuskan bersama untuk kepentingan masyarakat dunia. Kemiskinan, kesenjangan sosial dan kelaparan adalah permasalahan yang terjadi ketika sumber daya alam yang terbatas itu hanya dikuasai dan dikelola oleh segelintir kelompok saja. Dalam hitung-hitungan kasar 20% masyarakat terkaya di dunia menikmati hampir 85% sumber daya dunia. Sementara 80% sisanya hanya menikmati sekitar 15% saja. This isn’t right, We have to change the rule.

inequality2

Kemakmuran itu sebenarnya soal mudah. Kuasai harta sebanyak-banyaknya, manage hartanya, lalu penuhi kebutuhan dan keinginanmu sebanyak-banyaknya. Kalau tidak ada harta yang bisa dimanage, tidak ada harta yang bisa dimiliki, kurangi kebutuhan dan keinginanmu. That’s the general rules to survive this world.

Setiap hari masyarakat mendapat bagian yang sama atas sayuran, daging dan bahan makanan pokok sesuai kebutuhan masing-masing keluarga. Tidak ada yang terlalu mewah, tidak ada yang terlalu buruk. Tidak ada kaviar, dan tidak ada nasi aking.

Ratusan lansia, ribuan balita, jutaan tunawisma, ratusan juta masyarakat miskin merintih kelaparan ketika dua orang kekasih duduk di sebuah balkon restoran mewah memakan daging domba seharga ribuan dollar.

Liberalisme sesat karena pahamnya yang kuat yang berkuasa.

Sosialisme sesat karena pahamnya yang membagi sama rata.

Gila siapa, siapa yang gila?

Advertisements

2 Comments on “Gila siapa, siapa gila?”

  1. semua kegilaan dunia kamu tumpah ruahkan jadi satu nih di sini….

    kadang tanpa kita sadari sebenarnya pun kita seringkali menganggap sesuatu yang benar itu sebagai hal yang gila….

    larut dalam kesalahan persepsi….

  2. ebetsimanjuntak says:

    dunia emang udah gila to..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s